Sabtu , 23 September 2017
Breaking News
Apa yang Akan Dilakukan Samsung dengan ‘Sampah’ Galaxy Note 7
Samsung Galaxy Note 7 (dok. Samsung Mobile)

Apa yang Akan Dilakukan Samsung dengan ‘Sampah’ Galaxy Note 7

Keputusan Samsung untuk menghentikan penjualan dan produksi Galaxy Note 7 memunculkan pertanyaan mengenai apa yang akan dilakukan Samsung dengan jutaan komponen di dalam ponsel. Beredar spekulasi mengenai rencana Samsung untuk mengubah ‘sampah elektronik’ Galaxy Note 7 menjadi perangkat serupa yang menyasar segmen menengah bawah, atau memilah komponen untuk bisa dipakai kembali menjadi ponsel model baru.

Namun pihak perusahaan memastikan jutaan ponsel yang gagal beredar itu tidak akan diperbaiki, direkondisi, maupun dijual kembali. “Kami memiliki proses untuk membuang semua ponsel dengan cara yang aman,” kata juru bicara Samsung kepada Motherboard. Patut diingat, kegagalan Galaxy Note 7 tentu ada kaitannya dengan isu kerusakan lingkungan. Mengingat untuk setiap unit yang diproduksi, diperlukan material yang tidak sedikit.

Di tahun 2013, Insitute of Electrical and Electronics Engineering mengeluarkan perkiraan kebutuhan bahan mentah sekitar 75 kg untuk rata-rata ponsel. Meskipun bobot akhir untuk sebuah ponsel kurang dari setengah kilogram. Di sisi lain, bobot material yang bisa didapat kembali jika dilakukan proses daur ulang relatif sedikit. Untuk sebuah Galaxy Note 7 diketahui menggunakan 50 jenis logam dan hanya sekitar 12 jenis logam yang bisa dipakai kembali.

Benjamin Sprecher, seorang mahasiswa post-doktorat dari Leiden University Belanda secara khusus mempelajari beberapa material ponsel yang bisa didaur ulang. Kesimpulannya, ia mendapati komponen dalam ponsel pada dasarnya tidak benar-benar bisa dipakai kembali. “Material seperti idium (dipakai pada layar sentuh), logam langka seperti magnet neudymium di speaker, dan mikrofon, cobalt pada baterai (akan hilang,” kata CEO iFixit Kyle Wiens kepada The Washington Post.

Lebih dari dampak secara bisnis, Wiens menyebut efeknya terhadap lingkungan justru lebih mahal dari harga barang itu sendiri. “Sangat disayangkan semua unit Galaxy Note 7 harus langsung menuju proses daur ulang tanpa pernah digunakan terlebih dahulu,” imbuhnya.

Pada umumnya, semua material dalam sebuah ponsel memilki umur hidup sebelum masuk ke proses daur ulang. Bahkan tidak sedikit perusahaan yang menawarkan asuransi untuk mendaur ulang atau menjual kembali setiap komponen di dalamnya. Terkait dengan isu lingkungan, Samsung memastikan semua produknya didesain agar bisa seramah mungkin terhadap lingkungan dan pekerja, sepeti menggunakan bahan organik dan tidak mempekerjakan pekerja di bawah umur. Sejatinya bisnis ponsel pintar hanya satu dari sekian industri yang menggunakan bahan baku seperti logam langka dalam jumlah besar tetapi tidak bisa seutuhnya didaur ulang.

Wiens mengatakan sebenarnya Samsung bisa meminimalisir kesalahan jika menghindari penggunaan baterai ‘tanam’. “Kalau memang baterai sebagai akar permasalahan, sebenarnya Samsung bisa mengirim unit baterai baru yang memiliki kapasitas 95 persen dari yang lama (baterai yang bisa dilepas) karena lebih aman dan keadaannya bisa baik-baik saja,” imbuh Wiens.

Seperti diketahui, belakangan Samsung menggunakan standar desain unibody untuk ponsel flagship seri S dan Note. Baterai yang ditanaman biasanya dilekatkan dengan lem sehingga sulit untuk diperbaiki ataupun didaur ulang, sehingga bukan hanya tidak efisien tetapi juga memiliki efek lebih besar bagi lingkungan. (evn)

Sumber : Apa yang Akan Dilakukan Samsung dengan ‘Sampah’ Galaxy Note 7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*